Web Mahasiswa

Berpacu menjadi yang terbaik

Spivak merespon globalisasi atau standarisasi nilai tunggal

09 January 2014 - dalam Umum Oleh siti-alvi-fisip12

Konseptualisasi Pemikiran Spivak

Konsep subaltern ini hanya berasal dari sebuah artikel yang mengangkat kisah tragis adik neneknya (Bhuvaneswari Bhaduri) yang saat berusia sekitar 16-17 tahun menggantung diri di Calcutta Utara tahun 1926. Gantung diri ini dilatarbelakangi karena ketidakmampuannya menjalankan tugas pembunuhan politik yang dipercayakan kepadanya. Bagi Spivak inilah bukti sebuah ketidakmampuan berbicara, dan malah memilih membunuh diri.

Sublatern merupakan kelompok marjinal yang selalu menjadi objek bagi kelas yang dominan dan berkuasa. Merekalah kelompok yang tidak pernah ditulis dalam sejarah. Sebagaimana Berger dan Luckman memberi perhatian pada pengetahuan awam sehari-hari, maka Spivak juga menyuarakan ini. Sejarah kehidupan sehari-hari semestinya juga dilihat. Sejalan dengan Berger dan Luckman tersebut, hanya dengan inilah maka akan mampu menggali yang selama ini dilupakan (untuk melakukan debunking). Kelompok subaltern tidak monolitik, mereka mempunyai kompleksitasnya sendiri, dan meskipun mereka berbicara orang tidak menaruh perhatian pada kisahnya.

Pemikir kolonial memposisikan mereka yang terpinggirkan ini sebagai satu bentuk seragam, dimana mereka hanya dilabeli sebagai “masyarakat terjajah” atau “pribumi” tanpa mau tahu etnisnya, gender, pendidikan, dan lain-lain. Spivak ingin membuka mata dan fikiran terutama mereka yang dikelompokkan sebagai penyusun dan pendukung teori kolonial. Spivak memasukkan variabel perempuan, karena perempuan bahkan di masyarakat “normal” saja sudah dapat dikelompokkan sebagai subaltern yakni dalam masyarakat berstruktur patriarkhi.

Meskipun Spivak seorang feminis, namun ia juga mengkritik feminis lain. Ia mengkritik feminis Barat, yang sebagaimana teori lain mengklain sebagai sebuah kebenaran universal. Bagaimanapun teori kritis feminis Barat disusun oleh kalangan perempuan kulit putih Barat dari golongan menengah ke atas yang hidup di perkotaan. Satu kesalahan mereka menurut Spivak adalah karena memandang semua perempuan di dunia ketiga atau non Barat juga seragam dan monolitik. Feminis Barat tidak cermat melihat kondisi dan permasalahan yang khas dan kompleks pada perempuan non Barat. Ini sebuah kekeliruan metodologis; kata Spivak.

Spivak yang dipengaruhi pemikiran Barthez dan Foucault memperjuangkan pembebasan melalui penggalian kesadaran historis yang semestinya menjadi kesadaran yang tidak bisa dilepaskan dari diri masalah-masalah yang sangat lokal. Spivak membuat diskursus alternatif dengan menjadikan konsep “dharma” dalam keyakinan Hindu sebagai pembanding “ideologi Kristen”.

Namun, Moore-Gilbert melihat bahwa Spivak tetap tidak bisa melepaskan diri dari epistemologi pemikiran Barat, khususnya post strukturalis dan postmodern. Spivak dalam beberapa kesempatan sering tidak konsisten dengan posisi pemikirannya. Kontradiksi Spivak juga terlihat ketika ia mengatakan bahwa kelompok subaltern merupakan entitas yang strukturnya terpisah dari sistem ekonomi global yang terbentuknya berawal dari kolonialisme. Ia menyebut subaltern sebagai empty space (ruang kosong) yang lepas dari tatanan ekonomi global dunia; padahal ia menyebut bahwa tubuh perempuan telah menjadi komoditas yang diperdagangkan.

 

kritik Gayatri Spivak terhadap globalisasi

Selama ini, penulisan sejarah telah meminggirkan subaltern, karena selain tidak penting bagi sejarah kemanusiaan juga sulit melacak catatan-catatan tertulis tentang mereka. Elitlah yang menyusunkan sejarah untuk mereka.

Secara sederhana, dualitas elit-subaltern dapat dianalogkan dengan dualitas Barat-Timur, sehingga sejarah Timur juga disusun oleh Barat yang ditulis dengan pemahaman sepihak dan bias-bias yang menutup penulisan sejarah yang sesungguhnya. Malangnya, penulisan tersebut, bahkan oleh ahli hanya mengandalkan catatan-catatan tentara penjajah. (Hal ini misalnya dilakukan Max Weber dalam menulis agama Timur yang hanya mengandalkan catatan tentara dan catatan perjalan orang-orang Barat yang mengunjungi negeri Timur). Akibatnya, mereka tidak pernah benar-benar paham siapa dan bagaima sesunguhnya Timur, dan juga subaltern.

Namun Moore-Gilbert melihat lain, sedikit banyak subaltern juga ditulis meskipun sangat terbatas, misalnya tentang resistensi dan perlawanan terhadap berbagai kebijakan kolonial. Jadi, perjuangan emansipatoris tersebut sebenarnya ada, dan sejarahpun telah mencatatnya. Moore-Gilbert juga melihat bahwa Spivak tidak pernah benar-benar lepas dari pola berfikir biner, meskipun inilah yang menjadi basis kritik poskolonial. Spivak masih tetap menggunakan dikotomi, meskipun hal itu merupakan dikotomi baru.

Satu hal yang khas dari Spivak dibandingkan dengan Said (dan Bhabha) adalah perhatiannya pada perempuan sebagai variabel penting. Ini karena Spivak tergolong sebagai pemikir feminis, meskipun ia mengkritik keras feminis Barat yang mengklaim diri sebagai feminis universal.

Spivak mempertanyakan kembali peran intelektual pasca kolonial yang sering dikatakan bisa menyampaikan suara rakyat tertindas atau suara kaum subaltern. Namun, betulkah demikian? Betulkah kaum subaltern bisa berbicara? Subaltern adalah istilah untuk kelompok tertentu di masyarakat yang berada di posisi paling rendah. Ia merupakan kelompok inferior, dan menjadi subjek hegemoni kelas-kelas yang berkuasa. Contohnya adalah buruh baik buruh pabrik maupun buruh tani. Mereka tidak memiliki akses kepada kekuasaan yang menghegemoninya. Spivak menekankan, bahwa seharusnya sejarah juga menuliskan tentang sejarah kelas-kelas subaltern ini. Dinamika dan permasalahan kelas subaltern ini cukup kompleks. Mereka memang tidak pernah masuk di “sejarah resmi” negara.

Spivak merupakan ahli kajian kritis mengenai budaya (critical cultural studies) dan teori-teori dekonstruksi. Dalam satu kesempatan ia menyebut dirinya sebagai kritikus sastra.
Di sisi lain, analisis dan perhatian Spivak dapat dikatakan lebih kaya dibandingkan Said. Tema kajiannya lebih luas, mulai dari politik mikro di sekolah sampai narasi makro imperialisme. Ia berupaya melintasi oposisi biner dan menolak mengekslusi pihak yang berbeda darinya. Jika Said cenderung pada analisis level makro, Spivak berupaya mengeksplorasi sampai kepada level yang lebih rendah, dan ia selalu menemukan adanya relasi dominan-subordinasi pada setiap level tersebut.

KESIMPULANNYA :

Pada tahun 1985, Gayatri Spivak, perempuan India Profesor di Universitas Pittsburg mempublikasikan tulisannya yang berjudul “Can Subaltern Speak?”, dalam tulisannya tersebut Gayatri berbicara mengenai tendensi-tendensi colonial dalam teori-teori pascakolonial. Gayatri Spivak menanyakan peran intelektual pascakolonial yang sering dikaitkan dengan masyarakat yang mengalami penindasan ataupunketidakadilan yang merupakan kaum subaltern. Gayatri Spivak mengecam dan memperingatkan kepada intelektual pascakolonial tentang bahaya klaim mereka atas suara-suara dari mereka yang tertindas atau subaltern tersebut. Menurut dia, seorang intelektual tidak mungkin bisa mengklaim dan meromantisir kemampuan intelektual mereka untuk mencapai perhatian dari kelompok-kelompok tersebut demi suatu tujuan pragmatis. Tindakan-tindakan intelektual tersebut bagi Gayatri Spivak justru bersifat colonial sebab menurutnya hal tersebut menyamaratakan atau dalam istilah Gramsci menghegemoni keberagaman kelompok-kelompok yang tertindas atau subaltern tersebut.

Menurut Gayatri Spivak, suara dari para kaum tertindas atau subaltern tersebut tadak akan bisa dicari, karena para kaum tertindas tersebut tidak bisa berbicara. Maka dari itu, dia mengatakan intelektual sebenarnya bukan untuk bertujuan tertentu atau pragmatis demi mencari perhatian kaum subaltern tetapi mereka harus hadir sebagai pendamping atau orang yang mewakili kelompok-kelompok yang tertindas tersebut. Oleh karena itu Gayatri Spivak, intelektual mesti lebih banyak bertindak secara nyata untuk memperjuangkan kelompok-kelompok tersebut daripada hanya berpikir atau berbicara melulu.

 

strategi perlawanan yang ditawarkan oleh Gayatri Spivak untuk keluar dari sikap nilai globalisasi

Spivak menciptakan istilah " esensialisme strategis , "yang mengacu pada semacam solidaritas sementara untuk tujuan aksi sosial. Misalnya, sikap bahwa kelompok perempuan memiliki banyak agenda yang berbeda membuat sulit bagi feminis bekerja untuk penyebab umum. "Esensialisme Strategis" adalah tentang kebutuhan untuk menerima sementara sebuah "esensialis" posisi agar mampu bertindak.

Dalam uraiannya, Gayatri menjelaskan, sejarawan India Ranajit Guha dari Kelompok Kajian Subaltern mengadopsi gagasan Gramsci untuk mendorong penulisan kembali sejarah India yang kemudian mendefinisikan subaltern sebagai “mereka yang bukan elite”. Gagasan Guha menggeser dikotomi “menindas-ditindas” karena penindasan juga dilakukan oleh orang-orang di dalam kelompok. Hal ini mampu memberikan kerangka yang lebih jernih buat menganalisis soal “siapa kawan, siapa lawan” dan memaksa kita buat memeriksa ulang dikotomi-dikotomi penindasan. Gagasan Guha menggeser dikotomi-dikotomi “kolonial-antikolonial”, “buruh-majikan”, “sipil-militer”, dsb. menjadi “elite-subaltern”. Perhatian kita pada penindasan yang selama ini hanya terpusat pada “aktor-aktor luar”, kini mesti ditambah dengan perhatian kepada “aktor-aktor dalam”. Mereka yang mengatakan dirinya antikolonial bisa lebih bersifat kolonial dari pada mereka yang mengatakan dirinya kolonial.

Spivak dalam buku ini telah sampai pada kesimpulan bahwa kelompok-kelompok subaltern atau mereka yang tertindas memang tidak bisa berbicara. Karena itu seorang intelektual tidak mungkin bisa mengklaim dan meromantisir kemampuan mereka buat menggali dan mencari suara kelompok-kelompok subaltern. Klaim-klaim semacam ini justru bersifat kolonial, karena ia menyamaratakan (menghomogenkan) keberagaman kelompok-kelompok subaltern, dan pada akhirnya ia merupakan sebuah “kekerasan epistemologis” terhadap kelompok-kelompok subaltern. Relasi yang tercipta antara intelektual dengan kelompok-kelompok subaltern itu seperti relasi “tuan-hamba”.

Suara kelompok-kelompok subaltern tidak akan bisa dicari, karena mereka memang tidak bisa berbicara, karena mereka memang tidak bersuara. Intelektual datang bukan buat mencari suara itu, melainkan harus hadir sebagai “wakil” kelompok subaltern. Mengutip Gramsci, menurut Spivak intelektual mesti disertai “pesimisme intelek dan optimisme kemauan”: skeptisisme filosofis dalam memulihkan keagenan kelompok-kelompok subaltern yang disertai sebuah komitmen politis untuk menunjukkan posisi mereka yang terpinggirkan.

Tetapi kondisi ini juga dimaknai salah kaprah oleh Yang Terhormat Para Aktivis itu. Kita sering mendengar kelompok-kelompok marjinal yang mengatakan bahwa mereka telah “dimanfaatkan” oleh para aktivis buat menurunkan dana-dana bantuan dari lembaga-lembaga donor internasional. Dalam suatu penelitian yang menjadi bagian dari proyek pengentasan kemiskinan misalnya, kita sering mendengar sindiran masyarakat bahwa pada akhirnya aktivis-lah yang akhirnya justru mentas dari kemiskinan, sementara masyarakat sendiri tetap tinggal miskin.

Menurut Gayatri Spivak salah satu cara yang paling riil bisa dilakukan mereka yang berada di strata bawah adalah dengan mentransfer semua bentuk pengetahuan kedalam bahasa lokal yang bisa dimengerti oleh kelompok sosial yang terpinggirkan. Alih alih memberikan sumbangan riil pada gerakan pemberdayaan sub altern, global civil society justru memperbesar jarak antara elit dan rakyat karena sifat eksklusivitasnya. Meski tetap mengakui manfaat positif dari lingkungan bahasa internasional yang sudah dienyamnya. Spivak berpandangan bahwa bahasa Inggris merupakan barrier terbesar bagi kelompok sub altern untuk turut berpartisipasi dalam proses demokrasi. Subaltern itu sendiri didefinisikan oleh Spivak sebagai kelompok yang terputus secara total dari mobilitas sosial. Mereka yang menjadi bagian dari kampanye globalisasi Bahasa Inggris, menurut Spivak, justru turut memperparah situasi kelompok – kelompok marjinal.

Seseorang yang mempengaruhi

Dari tiga pemikir utama postkolonial dalam buku Moore-Gilbert, ketiganya merupakan warga dari kelompok masyarakat yang diperjuangkannya, yaitu si Timur. Spivak merupakan salah satu pemikir postkolonial penting berdarah India yang juga banyak mengkonstruksi teori-teorinya dari masyarakat India. Salah satu konsepnya yang terkenal adalah “subaltern” yang basis metodologisnya diadopsi dari pemikir Antonio Gramsci.

Dalam upaya memperjuangkan pembebasan melalui penggalian kesadaran historis yang semestinya menjadi kesadaran yang tidak bisa dilepaskan dari diri masalah-masalah yang sangat local, Spivak membuat diskursus alternatif dengan menjadikan konsep “dharma” dalam keyakinan Hindu sebagai pembanding “ideologi Kristen”. Namun, Spivak dalam memikirkan ini tidak hanya berfikir spontan begitu saja, namun Spivak ini dipengaruhi pemikiran Barthez dan Foucault.

 

Daftar Pustaka:

Spivak, Gayatri Chakravorty. "Bisakah Subaltern Speak?" Marxisme dan Interpretasi Kebudayaan. Ed. C. Nelson dan L. Grossberg. Basingstronke: MacMillan Education, 1988

https://www.google.co.id/#q=gayatri+chakravorty+spivak+can+the+subaltern+speak+summary&start=10 diakses tanggal 3 Desember 2013 pukul 19.30 WIB



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :