Web Mahasiswa

Berpacu menjadi yang terbaik

Pemikiran Politik Vandana Shiva

09 January 2014 - dalam Umum Oleh siti-alvi-fisip12

Pemikiran Vandana Shiva

 

Eco Feminisme

Ekofeminisme ialah pandangan yang mendasarkan dari dua pemikiran penting yaitu ekologi dan feminisme, oleh karena itu pandangan ini dikenal sebagai “the ecology of feminism and the feminism of ecology” yang menawarkan jalan keluar masalah kehidupan manusia dan alam. Sedangkan ekologi sendiri berasal dari bahasa Yunani yang dipopulerkan oleh Ernst Haeckel seorang biologis jerman pada tahun 1860an, “oikos” yang berarti rumah-tempat tinggal semua makhluk hidup dan “logos” berarti ilmu. Ekologi tersebut mempelajari hubungan antara manusia dan lingkungan hidup, mengaitkan ilmu kemanusiaan dan ilmu alam dan melihat dunia secara integral-holistik. Sedangkan intisari dari feminisme sendiri adalah suatu pandangan atau pemikiran yang berangkat dari kesadaran dan kepedulian terhadap segala bentuk penindasan, ketidakadilan, diskriminasi dan marginalisasi pada perempuan. Sedangkan perbedaan dalam cara mengidentifikasi isu-isu perempuan tersebutlah yang kemudian memunculkan beragam aliran dan pendekatan dalam feminisme; Marxist, Sosialis, Liberal, Radikal, Post-Modernis. Gerakan feminisme dan ekologis mempunyai hubungan yang berkaitan terutamanya ketika berhadapan dengan logika kapitalis-patriarkhi. Adalah ketika pola dominasi terhadap alam dan terhadap perempuan menimbulkan kehancuran ekologis karena praktek dari pembangunan yang buta gender dan tidak ramah terhadap lingkungan.

Ekofeminisme menggabungkan kritik ekologi dengan kritik gender, dan menujukan kritiknya kepada ilmu pengetahuan Barat yang berciri dualistik, cenderung didominasi teknologi dan buta gender. Para ekofeminis menyatakan bahwa dominasi atas alam adalah secara langsung berhubungan dengan faktor-faktor ekonomi, budaya, psikologi yang menciptakan hierarkhi, dan pada prakteknya menindas perempuan dan mengeksploitasi alam. Karakteristik dari ideologi-ideologi maskulin seperti misalnya; perang dan kekerasan, diskriminasi, pandangan etnosentrik, yang difasilitasi oleh teknologi dan ilmu pengetahuan Barat dilihat oleh kaum ekofeminis menjadi ancaman besar atas kesinambungan alam dan lingkungan.

Ekofeminisme, selain mampu menerangkan latar belakang subordinasi perempuan, juga mampu menjelaskan latar belakang kerusakan lingkungan hidup global. Ekofeminisme melihat masalah relasi antarmanusia (termasuk perbedaan gender) maupun relasi manusia dengan alamnya adalah saling berkaitan satu sama lain, karena berawal dari pandangan umum dan ilmu pengetahuan yang mesti dikritisi bahkan didekonstruksi. Ekofeminisme mampu menemukan titik tolak bersama atau solusi yang tepat menggambarkan dan menjawab bahwa energi feminitas dan bukan maskulinitas, berpotensi untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup. Intisari dari gerakan ekofeminisme adalah menuntut terciptanya hak yang sama dalam mendapatkan akses terhadap sumber daya alam, dengan melihat keberlanjutan ekologi baik perempuan maupun laki-laki, melindungi hak-hak mereka yang lemah, menjaga harmoni dalam semua komunitas, menolak segala kekerasan dan dominasi yang mengancam perempuan, anak-anak, masyarakat lokal dan terhadap alam, serta menghargai keberagaman hayati dan kearifan lokal.

 

Kritik Vandana Shiva terhadap Globalisasi

Shiva melihat model pembangunan sebagai pembangunan yang bersifat barat, patriakal, dan didasarkan pada ilmu pengetahuan dan tekonologii yang memenuhi pasar global sebagai salah satu hal yang menghancurkan kaum perempuan, alam dan semua ‘yang lainnya’ –bangsa-bangsa yang bukan bangsa Barat. Shiva menunjukkan pertentangan antara antara model pembangunan barat yang bersifat untuk kulit putih, laki-laki, serta patriakal, dengan sistem pertanian tradisonal India yang bekerja dalam harmoni dengan alam. Model pembangunan barat mengawali teknik-teknik penanaman monokultur di bidang kehutanan dan pertanian guna memenuhi permintaan pasar dan mengumpulkan kapital. Model ekonomi tradisional India telah melestarikan satu hubungan dengan alam yang saling menguntungkan melalui budidaya tanaman-tanaman multikultur untuk produksi subsisten lokal, dengan menggunakan apa yang alam dapat hasilkan dalam sistem pertanian tradisional.

Disini dapat kita lihat bahwa pemikiran Shiva muncul sebagai sebuah model pembangunan alternatif. Ia menawarkan solusi untuk memulihkan sistem-sistem pertanian subsisten secara global. Sebab mengkomoditaskan alam dan tenaga kerja perempuan –yang merupakan sifat dari model pembangunan Barat- telah menimbulkan penumpukan kapital di negara-negara maju dan kemiskinan di negara berkembang, dan perubahan wajah kapitalisme ini secara substansial tidak mengubah sifat dasarnya yang selalu eksploitatif dan akumulatif. Sebagai bentuk terbaru dari wajah kapitalisme, globalisasi tetap dipandang sebagai sebab utama penindasan perempuan dan kerusakan terhadap ekosistem.

 

Eksploitasi terhadap Alam Berkaitan Langsung dengan Eksploitasi terhadap Perempuan

Developmentalisme dalam beberapa kritik terhadapnya ditunjukkan sebagai penghasil penindasan terhadap perempuan di dunia ketiga. Women in Development (WID) sebagai bagian utama developmentalisme dirancang untuk mendorong keterlibatan kaum perempuan dalam pembangunan, namun tidak pernah mempersoalkan manifestasi ketidakadilan dan diskriminasi jender. Perubahan iklim akibat industrialisasi dan modernisasi pun dianggap oleh kaum ekofeminis adalah juga sangat merugikan perempuan. Sebab konsekuensinya pertama kali menimpa kepada perempuan-perempuan di sebagian besar negara-negara sedang berkembang yang berhubungan langsung dengan alam dalam lingkup lokal/ pedesaan, terutamanya adalah karena kerja produktifnya secara langsung berhubungan dengan alam; seperti usaha pertanian, perhutanan, perkebunan, perairan dsb. 

Kegiatan perempuan dalam proses menyediakan pangan perlu dipandang sebagai hubungan yang produktif dengan alam karena tidak hanya mengkonsumsi melainkan juga membuat tumbuh kembali. Perspektif gender di sektor kehutanan juga menggambarkan adanya perbedaan antara perempuan dan laki-laki terhadap beberapa hal antara lain; pemanfaatan sumberdaya alam, jenis pekerjaan, kredit dan teknologi, pendidikan, pengetahuan dan konservasi lingkungan, hukum, serta dalam representasi dan pembuatan keputusan. Premis utama dari perspektif ekofeminisme adalah kritik sosial bahwa dominasi terhadap perempuan melalui sistem patriarkhi, dan dominasi terhadap alam melalui model pembangunan dari Barat adalah saling berhubungan.

Shiva menjelaskan peran dari ilmu pengetahuan yang disebut “development” namun kemudian Shiva menyebutnya “maldevelopment”. Shiva mengklaim bahwa dalam faktanya, alih-alih untuk mensejahterakan manusia, proses pembangunan yang dibangun dari logika kapitalisme malah merusak alam dan juga menindas kaum marginal. Kapitalisme yang komersial ialah berdasarkan dari produksi komoditi yang terspesialisasikan. Keseragaman dalam produksi dan penggunaan dari sumber daya alam adalah menjadi syaratnya. Sehingga tak diragukan lagi, eksploitasi alam atas nama keuntungan dan kepentingan perusahaan adalah niscaya adanya.

 

Relasi antara Revolusi Hijau, Rekayasa Genetika dengan Marginalisasi terhadap Perempuan

            Vandana Shiva, memandang bahwa revolusi hijau sebagai praktik pembangunan yang sepenuhnya menganut pada ideologi maskulinitas yang merupakan manifestasi dari pengetahuan yang reduksionis. Hal ini menjadi logis, karena revolusi hijau menuju ke monokultur, uniformalitas, dan homogenitas. Sebagai implementasi model pertanian positivis, revolusi hijau menyingkirkan segala bentuk pengetahuan lokal dan mengancam keanekaragaman hayati yang merupakan manifestasi prinsip feminin. Sebenarnya, kehidupan sebagian besar masyarakat dan kaum perempuan terutama dunia ketiga sepenuhnya tergantung pada kelestarian keanekaragaman tersebut, sehingga mereka berkepentingan atas kelestariannya. Tetapi hegemoni dan diskursus revolusi hijau serta semua prinsip maskulinitas menjulukinya sebagai primitif dan tidak produktif sehingga mereka menggusurnya. Penggusuran ini memuncak saat pengetahuan reduksionis memasuki era baru seiring dengan globalisasi, yaitu “bioteknologi”. Keanekaragaman hayati yang bagi kaum perempuan mempunyai nilai keberlangsungan kehidupan, bagi industri bioteknologi hanya dianggap sebagai ‘bahan baku’. Melalui mekanisme teknologi, ‘bahan baku’ tersebut diolah menjadi bibit ‘unggul buatan’ yang dipatenkan demi keuntungan.

Bioteknologi bagi kaum ekofeminis dipandang sebagai bencana bagi lingkungan dan petani perempuan di Selatan. Teknologi dan komersialisasi serta paten bibit menjadi musuh perempuan karena selain menggangu proses kreasi alamiah, juga merupakan proses pencurian hak kaum perempuan miskin atas pengetahuan dan sumber daya.

Shiva juga memahami penindasan perempuan dan relasinya terhadap kerusakan alam dengan menggunakan cara pandang yang khas, yaitu memfokuskan gagasannya pada dua ideologi yang berlawanan. Yakni antara prinsip “maskulinitas” dan prinsip “feminitas”, sebagai the sustenance perspective yaitu prinsip yang diperlukan bagi kehidupan adalah kedamaian, keselamatan, kasih dan kebersamaan. Sebaliknya, maskulinitas bercirikan persaingan, dominasi, eksploitasi dan penindasan, yaitu prinsip penghancuran. Feminitas sebagai suatu prinsip tidak mesti hanya dimiliki oleh kaum perempuan, demikian pula sebaliknya. Justru banyak sekali perempuan dan aktivis feminisme yang menganut ideologi maskulinitas. Maskulinitas dalam proses sejarah menjadi ideologi yang dominan yang berhasil merealisasi diri dalam berbadai aspek kehidupan, seperti developmentalisme, modernisasi, industrialisme, militerisme, positivisme dan reduksionisme serta berbagai ideologi kekerasan lainnya.
Hampir semua pemikir feminisme tanpa sadar telah menggunakan ideologi, epistimologi, dan teori yang berdasarkan pada ‘prinsip maskulinitas’ yang juga anti ekologi.

Dengan demikian, hampir semua, tanpa sadar, ikut menyingkirkan ‘prinsip feminitas’, yakni satu ideologi yang ramah pada sesama manusia dan melindungi lingkungan, suatu paradigma yang diperjuangkan oleh Shiva. Selain itu agenda kaum feminis liberal yang bersadar pada developmentalisme dan positivisme, justru menjadi masalah daripada pemecahan bagi perempuan maupun lingkungan. Feminisme radikal tanpa sadar menggunakan prinsip persaingan pada sifat maskulinitas. Demikian pula feminisme marxist, juga cenderung mengadakan devaluasi atas prinsip feminitas. Watak rasionalisme dan tiadanya kaitan spiritualitas antara feminisme dan ekologi menjadi kritik utama Shiva pada feminisme dominan tersebut.

Pandangan Shiva penuh dengan dimensi spiritualitas dalam memandang alam secara feminin. Pandangan ini berbeda dengan pada umumnya feminist yang berakar pada modernisme yang berlandaskan prinsip maskulinitas. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan holistik, yakni kaitan antara feminitas dan ekologi. Dominasi prinsip maskulinitas yang anti alam dan perempuan, tetapi juga hancurnya ekologi dan sistem pengetahuan lainnya yang non rasionalis, termasuk prinsip feminin. Pemikiran Shiva berangkat dari kepeduliannya pada proses peghancuran ekologi dan penyingkiran prinsip feminitas beserta spiritualitas budaya kosmologi prakriti oleh suatu ideologi maskulin, yang bersandar budaya patriaki dan kapitalisme serta reduksionisme. Prakriti sebagai penyedia sumber daya dan kekayaan tengah mengalami penghancuran oleh ideologi maskulinitas dan segenap bentuknya. Bagi Shiva, hancurnya alam juga berarti hancurnya prinsip feminitas.



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :