Web Mahasiswa

Berpacu menjadi yang terbaik

Pengantar filsafat ilmu

09 January 2014 - dalam Umum Oleh siti-alvi-fisip12

 

 

 

 

Pengantar filsafat merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang sesuatu hal yang realistis di dunia ini, sifat pengetahuannya abstrak. Dalam pembelajarannya memerlukan tingkat konsentrasi yang tinggi, dan penalaran yang sangat luas serta pertimbangan yang matang karena, dalam filsafat 1 kejadian mengandung banyak sekali pengertian dan makna. Selain itu, dalam dunia filsafat banyak sekali mengandung kata-kata bijak yang sering sekali muncul di dalam kehidupan sehari-hari kita seperti halnya kata pepatah. Hal ini digunakan untuk memotivasi manusia agar selalu semangat dalam menjalani kehidupannya dan selalu berfikir positif serta selalu ingat serta mengutamakan penciptanya.

Dalam filsafat, kita diajarkan untuk selalu bersikap kritis dan berfikir ilmiah sehingga kita mampu mempertimbangkan tingkat kecocokan dan kebenaran suatu kejadian, hubungan antara kejadian satu dengan yang lainnya, menganalisis suatu teori, asumsi, serta berbagai pandangan dan pendapat yang banyak muncul di sekitar kita.

“Tak kenal maka tak sayang”. Tentu kita semua tak asing lagi dengan kata-kata ini. Ungkapan ini berarti untuk memahami lebih dalam watak, sifat, kebiasaan atau singkatnya agar kita bisa bersosialisasi secara baik terhadap orang lain, dan memunculkan rasa SIMPATI, EMPATI, SUGESTI, IDENTIFIKASI, maupun IMITASI sebelumnya kita perlu untuk mengenalnya terlebih dahulu.”KENALAN”. Itulah cara yang paling efektif dan universal agar kita mengenalnya. Dalam kenalan itu kita harus percaya diri, hilangkan rasa malu dan canggung asalkan kita mempunyai adab dan sopan santun, serta kita menggunakan cara yang benar.

Pada hari Selasa, 26 Februari 2013 pukul 10.00 WIB di Universitas Airlangga, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Departemen Ilmu Administrasi Negara, Jurusan administrasi negara kami  mahasiswa angkatan 2012 pertama kalinya menerima mata kuliah Pengantar Filsafat Ilmu. Awalnya kami menganggap bahwa filsafat adalah ilmu yang menyesatkan. Bagaimana tidak? Anggapan ini tidak muncul begitu saja namun hal ini dikarenakan sebagian besar dari kami telah mendengar dari banyak senior bagaimana kurang relevan dan kurang konkretnya serta sulitnya apa yang dipelajari dalam filsafat . Namun, setelah dosen kami bapak M. Adib dari Departemen Antropologi memasuki ruangan kuliah , mengucapkan salam pembuka yang saya nilai begitu religius, dan memulai kuliah rasanya apa yang telah menjadi asumsi kami dari awal berubah dan sama sekali tidak sama dengan apa yang sebelumnya kami fikirkan. Malahan ilmu filsafat mengajarkan kita jangan berfikir sempit. Misakan saja ketika pak Adib berkata “Istri saya ada 3”. Kami sempat merasa tidak percaya, walaupun sumpah diucapkannya,kami tidak juga mempercayainya. Namun, pada akhirnya setelah dijelaskan bahwa sesungguhnya kata tersebut ada lanjutannya, kami tersenyum lepas. Ternyata maksud P. Adib adalah benar istrinya ada 3 anaknya. Selain itu memang benar istrinya juga ada 3, namun bukan total jumlahnya namun fasenya, yakni fase pertama adalah ketika istrinya masih menjadi calon,dia masih ramping. Fase kedua adalah ketika berumah tangga istrinya gendut. Dan fase ketiga adalah ketika istrinya memulai merawat diri dan kembali ramping, dan lebih cantik lagi walaupun telah menikah. Pak Adib juga mengatakan komposisi keluarganya jika dilambangkan dalam angka adalah membentuk bilangan 13000. Maksudnya 1=P. Adib sebagai kepala dalam 1 keluarga, ayah, dan imam. 3 fase istrinya,dan 3 total anaknya, yang mana 0 adalah kesemuanya gendernya adalah perempuan semua.

Dalam suatu majlis, salam pembuka bisa dan bahkan telah mencerminkan bagaimana tingkat kesopanan dan penghargaan terhadap siapa yang akan menjadi lawan bicara kita atau audience. Semakin panjang dan semakin fasihnya salam menggambarkan tingkat kebiasaan yang baik dalam sebuah pertemuan. Begitu pula apa yang dapat saya nilai dan tangkap dari tatap muka pertama kuliah pertama filsafat ilmu dengan dosen kami yakni bapak M. Adib. Kebiasaan mengucap salam terhadap sesama dalam sebuah majelis perlu dijadikan awal kebiasaan yang baik dalam hubungan antara sesama manusia ataupun kepada sang Kholiq.

Tatap muka pertama memberikan pengetahuan mengenai ungkapan“APALAH ARTI SEBUAH NAMA”. Tentu telah mengetahui bahwa dalam sebuah nama tersebut mengandung sebuah harapan orang tua kita saat kita hidup di kehidupan bermasyarakat kini dan nanti. Nama adalah do’a, nama adalah kepercayaan atas tindakan yang akan kita perbuat,dan nama adalah tanggung jawab kita kepada Sang Pencipta yakni Allah SWT. Jadi semakin baik makna dalam sebuah nama itu, patut kita syukuri dengan semakin baik pula fikiran, ucapan, dan fikiran kita. JANGAN PERNAH MENGANGGAP REMEH SEBUAH NAMA.

Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya, di Indonesia banyak sekali terjadi berbagai penyakit sosial, seperti contohnya korupsi, kolusi, dan nepotisme. Tentunya hal ini tidak muncul begitu saja tapi hal ini telah mendarah daging dari saat kita masih anak-anak. Misalkan saja saat ini adalah kita sendiri. Kita sering kali telat dalam memenuhi janji baik dalam kuliah kita ataupun dengan temen kita. Istilahnya adalah “JAM KARET”. Adapula kasus yang sekarang ini tak asing lagi kita dengar adalah kasus KORUPSI para pemimpin negara. Hal ini dikarenakan krisisnya moral pada diri sendiri dan kesefahaman tujuan dalam sebuah langkah kepemimpinan merek. Mereka berpendidikan tinggi, memiliki dedukasi yang tidak diragukan lagi. Mereke juga termasuk SDM yang berkualitas, namun mengapa korupsi tetap mereka lakukan sedangkan mereka termasuk golongan orang-orang yang cerdas dan mampu berfikir panjang? Ya,mereka sering kali tergiur dengan uang, wanita, juga kesenangan belaka. Mereka melupakan moral, dan tanggung jawab. Namun tunggu sebentar,sebagai manusia bermoral pula kita tidak bisa dan tidak boleh memvonis begitu saja tentang apa yang mereka perbuat. Nah inilah tujuan kita mempelajari filsafat. Filsafat memiliki fungsi pokok yaitu mengajari kita mengutamakan moral yang mana akan terus kita bawa dan menjadi dasar segala tingkah laku kita. Filsafat juga menyediakan bimbingan konseling agar dalam mencari sesuatu kita harus berdasarpula pada ilmu pengetahuan yang benar dan pasti. Selain itu,tujuan lain dari filsafat agar kita mampu mampu melihat suatu fakta/kejadian sebagai masalah ilmiah yang nantinya dapat kita analisis, kita tarik suatu hasil yang diikuti sebuah penjelasan mengenai sebab-akibat kejadian itu terjadi dan hubungannya dengan peristiwa lainnya, yang mana akhirnya kita bisa mengajukan beberapa konsep penyelesaian masalah tersebut sehingga masalah tersebut clear karena solusi yang kita berikan itu dan puncaknya bisa menjadikan suatu kebiasaan mulia untuk menetralisir suatu kerusakan yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari atau simpulnya adalah meminimalisir adanya krisis ilmu pengetahuan, sinergi ilmu pengetahuan, krisis identitas nasional, serta cita-cita nasional bangsa.

Pernyataan diatas adalah perlunya filsafat dalam kehidupan bermasyarakat. Lalu, sekarang ini tentu kita akan bertanya apa sih pentingnya filsafat di lingkungan kampus/ Perguruan Tinggi? Pentingnya filsafat di lingkungan kampus adalah sebagai upaya untuk membekali dan melatih para generasi muda untuk menumbuhkan nilai moral dan menunjukkan sinergitas ilmu yang mereka punya melalui kegiatan yang positif serta menghapuskan kekrisisan ilmu pengetahuan yang kini telah menjadi sampah utama di Indonesia, yangmana bekal ini  nantinya akan mereka gunakan untuk menyelesaikan berbagai masalah ketika mereka telah memimpin bangsa. POINNYA, munculnya filsafat di lingkungan kampus adalah dilatarbelakangi oleh maraknya krisis Ilmu Pengetahuan beserta sinerginya, adab, sopan santun, etika,budaya dan moral para generasi penerus bangsa dan hampir semua kalangan masyarakat. Mahasiswa diharap mampu menjadi “Agen of Change” , ”Iron Stocks” , “Pembawa budayah asli negara. Sehingga untuk mengantisipasi krisis moral, ilmu pengetahuan beserta penggunaannya yang baik juga sinergitasnya yang akan terjadi ketika mahasiswa turun langsung dalam kehidupan masyarakat sesungguhnya, ilmu filsafat dianggap dan dirasa sangat penting dan dibutuhkan untuk mencetak calon pemimpin yang arif, baik, bijaksana, dan berfikir ilmiah, berfikir maju, serta membawa manfaat yang luar biasa, tidak merugikan diri sendiri, masa, nusa, dan bangsa.

Di zaman yang serba modern ini, teknologi yang merupakan hasil karya, cipta , dan rasa para generasi Indonesia telah berkambang pesat. Ilmu pengetahuan pun telah dianggap sebagai satu modal yang penting untuk mempertahankan kejayaan seseorang. Karena ilmu mampu mengarahkan kita untuk menciptakan hal yang baru untuk membantu segala aktifitas sehari-hari. Kembali ke dalam teknologi, teknologi sangat berperan penting dalam menyalurkan berbagai informasi kepada publik. Tidak hanya yang baik saja, namun yang burukpun juga menjadi akibatnya. Baik dan buruk tergantung bagaimana kita memandangnya dan mempergunakannya kepada hal-hal yang bermanfaat bagi kita, sesama, dan Tuhannya. Teknologi dijadikan sebagai sarana yang sangat strategis dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, dan memajukan kesejahteraan umum. Namun tak jarang pula teknologi digunakan untuk menyebarkan hal-hal yang baik, aib, kesopanan, kesusilaan, dll. Dalam hal inilah filsafat sekali lagi berperan sebagai salah satu filtrasi pokok moral suatu masyarakat baik yang menggunakannya ataupun yang menciptakan inovasi baru itu.

Marilah kita kembali tengok pada motto semboyan Universitas Airlangga yakni Excellent With Morality. Untuk mewujudkannya visi dan misi Universitas Airlangga yang menciptakan mahasiswa yang unggul dalam bidang akademik maupun non-Akademik, yang menjunjung tinggi moral, ilmu filsafat sangat juga diperlukan dan menjadikan filsafat sebagai mata kuliah wajib dalam Universitas Airlangga. Bahkan,tidak hanya Airlangga saja yang menggunakan filsafat sebagai mata kuliah wajib namun,hampir seluruh PT yang ada di Dunia. Hal ini berkaitan dengan upaya menciptakan SDM mahasiswa yang unggul dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, berarakter bangsa, serta mempunyai moral yang tinggi. Semakin kita berprestasi dalam suatu hal maka semakin besar pula peluang kita untuk memajukan kesejahteraan kita sendiri, rakyat, dan bangsa. Dalam hal ini berarti semakin besar pula tuntutan kita untuk mengetahui etika, moral, dan agama dalam sebuah tanggung jawab yang besar pula. Moral tak hanya terletak pada hati kita saja namun terletak pada tanggung jawab kita dalam menyelesaikan apa yang menjadi tuntutan kita dalam berbagi terhadap sesama. Seberat apapun tugas kita, sebanyak apapun tugas dan beban kita beseta segala konsekuensinya dan tingkat penilaiannya, apabila kita menjalaninya dengan ikhlas atas dasar usaha kita, do’a dan ikhtiar kita maka, kesemuanya akan terasa ringan-ringan saja. “YOU CAN IF YOU THINK CAN” said Norman Peale. “Kemurkaan Allah adalah sakitnya hati orang tua, dan keridhoan Allah adalah do’a orang tua”.

 

Terima Kasih ^_^



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :