Web Mahasiswa

Berpacu menjadi yang terbaik

asmen untuk mencapai keputusan

09 January 2014 - dalam Umum Oleh siti-alvi-fisip12

Kasus Waduk Pluit, Jokowi Siap Gempur Pengembang Nakal 

Republika/Agung Supri : Thursday, 16 May 2013, 05:36 WIB

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA---Sulitnya merelokasi warga di bantaran Waduk Pluit, Jakarta Utara, disinyalir karena adanya komersialisasi lahan.Bahkan ada pengembang yang menyewakan lahan kepada warga. Kendati demikian Pemprov DKI Jakarta, tidak akan mundur untuk melakukan normalisasi waduk terbesar di ibu kota ini.

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo menduga adanya pengembang yang berusaha untuk menduduki lahan negara. Pihaknya pun bertekad akan menghilangkan oknum-oknum tersebut. "Ada komersialisasi, yang saya sampaikan dari awal dulu ada developer lepas yang ingin menduduki tanah negara dan ini yang harus dihilangkan," kata Jokowi, seperti dilansir situs beritajakarta.

Dikatakan Jokowi, sebagian besar warga yang bermukim di bantaran Waduk Pluit menyewa dari pengembang. Bahkan warga yang menyewa telah setuju untuk direlokasi."Kalau rakyat mau semuanya kok pindah ke rumah susun.Yang teriak ya itu developer," ujarnya.

Jokowi mengaku telah mengantongi nama-nama pengembang yang menguasai Waduk Pluit.Namun dirinya enggan untuk membuka kepada publik.Menurutnya, setiap pengembang ada yang memiliki rumah sewaan hingga 20 unit."Datanya sudah ada, sudah kita pegang.Tapi kita tidak ingin buka-buka.Ada yang satu orang punya sewaan 15 sampai 20 unit," katanya.

Jokowi pun mengaku siap menemui Komnas HAM terkait dengan permasalahan ini.Pasalnya, dirinya telah memiliki data dan mengetahui kondisi di lapangan."Nanti saya mau ketemu Komnas HAM, mengapa kita ngomong seperti ini.Karena kita tahu lapangan, kita itu lihat kok," ujarnya.

 

Pelan tapi Pasti, Waduk Pluit Mulai Terlihat

Zico Nurrashid Priharseno | Kamis, 23 Mei 2013 | 15:25 WIB

 

KOMPAS.com/ZICO NURSAID

Sebuah mesin backhoe terus melakukan pengerukan waduk pluit untuk mengembaalikan fungsinya seperti semula, Kamis (23/5/2013).

JAKARTA, KOMPAS.com — Deru empat mesin backhoe terus terdengar di bantaran Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara.Kerja tiada henti itu telah menampakkan hasil nyata, kini wajah Waduk Pluit mulai terlihat lebih jelas.

Mesin backhoe tersebut diletakkan di bantaran waduk, terlihat seperti mengapung di tepi waduk. Padahal, tangan besi itu tidak mengapung, tetapi menyentuh dasar waduk yang sudah dangkal tertutup lumpur di sisi timur.Roda mesin yang berupa rantai besar dari besi untuk menjalankan mesin tersebut memiliki ketinggian sekitar dua meter.Artinya, kedalaman waduk itu tidak sampai dua meter karena tidak seluruh roda mesin itu tertutup air.

Waduk Pluit seharusnya memiliki kedalaman sepuluh meter.Namun, karena terus mengalami pendangkalan, kini kedalamannya hanya antara satu dan tiga meter.Waduk ini memiliki luas 80 hektar, kini 20 persennya telah diokupasi oleh rumah-rumah liar di bantarannya.

Pengerukan ini mulai dikerjakan pada Februari lalu, tepatnya setelah banjir besar melanda kawasan Pluit pada awal tahun ini.Waktu itu, rumah-rumah yang berada di bantaran waduk nyaris menghilang tertutup air.Waduk Pluit berubah layaknya tempat pembuangan sampah raksasa, fungsinya sebagai waduk sudah tidak dapat disandangnya.

Selain sampah, penyempitan lahan oleh pembangunan rumah atau bangunan lain di bantarannya menjadi salah satu penyebab kawasan ini tak lagi berfungsi maksimal menjadi kantong air. Itu sebabnya kawasan tersebut kerap dilanda banjir besar. Karena itulah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah pemimpin Gubernur DKI Joko Widodo bertekad mengembalikan fungsi waduk seperti semula.Lumpur dan tanah yang menutupi waduk terus-menerus dikeruk, dan akhirnya air di dalam waduk mulai terlihat.Tumpukan sampah yang menyelimuti badan waduk akhirnya mulai menghilang.

"Sebelum dikeruk, isinya sampah semua ini. Baru kali ini saya lihat waduknya," kata Sukoco Daulat, seorang penjaga warung makan di pinggir Waduk Pluit, tepatnya di depan eks lapangan futsal di sisi timur waduk, Kamis (23/5/2013).

Sukoco berharap agar pengerjaan normalisasi waduk itu cepat terselesaikan."Agar tidak banjir lagi," ujarnya.

Saat ini waduk itu masih dipenuhi eceng gondok dan endapan lumpur.Mesin-mesin berat terus melakukan pekerjaan besar mengeruk lumpur agar waduk ini semakin jelas terlihat. Sementara itu, beberapa petugas keamanan dari kepolisian terlihat memantau dan menjaga proses pengerjaannya.

Editor : Laksono Hari W

 

 

 

 

 

 

 

ANALISIS MASALAH

Pengambilan keputusan didefinisikan sebagai proses memilih tindakan tertentu dalam menghadapi masalah atau menangani kesempatan yang ada. Pengambilan keputusan juga dapat diartikan sebagai proses organisasi merespon peluang dan ancaman dengan melakukan analisis berbagai pilihan solusi dan kemudian merumuskan berbagai tujuan dan tindakan yang akan dilakukan.

Untuk lebih memahami definisi dari pengambilan keputusan tersebut,kita dapat melihat contoh konkretnya dalam kasus waduk pluit. Di dalam kasus ini, pemprov DKI Jakarta melakukan suatu pengambilan keputusan mengenai pengadaan relokasi penduduk yang bertempat tinggal di sekitar waduk pluit, Jakarta Utara untuk dipindahkan ke rumah susun yang telah disediakan. Program normalisasi waduk pluit ini bertujuan untuk menangani banjir tahunan Jakarta serta demi keselamatan jiwa bagi warga yang tinggal di bantaran waduk tersebut. Pasalnya Banjir Kanal Timur (BKT) dan Banjir Kanal Barat (BKB) tidak memiliki daya tampung yang cukup memadai, sehingga DKI berharap besar pada waduk di utara Jakarta itu.

Keputusan yang diambil tersebut digunakan untuk merespon peluang atau ancaman.Keputusan merespon peluang agar dapat memperbaiki dan meningkatkan kinerja organisasi. Memperbaiki dalam konteks ini adalah berusaha mencapai target yang telah ditetapkan. Sedangkan meningkatkan adalah menambah bobot output yang telah kita capai. Keputusan merespon ancaman agar dapat menetralisir dan mengelola dampak atau akibat yang disebabkan oleh faktor luar organisasi.

Proses pengambilan keputusan oleh gubernur DKI Jakarta diperuntukkan normalisasi fungsi waduk terbesar di ibu kota ini sebagai kantong air,  mencapai target pemaksimalan fungsi waduk pluit yang sebagian besar luasnya telah tertutup oleh lumpur dan sampah. Untuk mencapai target tersebut maka Djokowi mengambil insiatif untuk merelokasi pemukiman penduduk di sekitar waduk pluit karena menurut pemprov DKI Jakarta, apabila di sekitar waduk pluit terdapat pemukiman warga maka fungsi waduk pluit tidak dapat dijalankan secara maksimal. Di samping itu, pemaksimalan fungsi waduk pluit juga diharapkan dapat mengurangi beban debit air yang harus ditanggung oleh BKT dan BKB sehingga, proyek ini tidak hanya sekedar untuk menyelesaikan satu permasalahan tetapi juga beberapa permasalahan yang selama ini harus ditanggung oleh penduduk DKI Jakarta.

Namun tentu saja baik dalam proses pengambilan keputusan maupun proses pelaksanaan tersebut pastilah ada suatu hambatan ancaman yang harus dihadapi. Dalam kasus ini, ancaman datang dari para pengembang yang menyewakan rumah-rumah di sekitar waduk pluit kepada para penduduk.Para pengembang yang masing-masing menyewakan 15-20 unit rumah tersebut melakukan segala upaya agar para penduduk tidak mematuhi keputusan yang diambil oleh pemprov. Untuk itu, Jokowi mengambil langkah untuk membicarakan permasalahan ini ke komnas HAM. Tujuannya sangat jelas yakni untuk menetralisir ancaman dari para pengembang sekaligus untuk mencari titik terang di balik ancaman tersebut.Perlu kita telaah bersama bahwasanya permasalahan ini bukanlah suatu permasalahan yang kecil atau sepele.Pasalnya, permasalahan ini menyangkut hajat hidup orang banyak sehingga mau tidak mau harus berkaitan dengan pihak-pihak ataupun lembaga-lembaga lain, seperti Komnas HAM.

Di dalam implementasinya, salah satu komponen terpenting dari proses pembuatan keputusan yang tidak boleh ditinggalkan oleh pembuat keputusan ialah kegiatan pengumpulan informasi darimana suatu apresiasi mengenai suatu keputusan dapat dibuat.Apabila informasi yang cukup dapat dikumpulkan guna memperoleh suatu spesifikasi yang lengkap dari semua alternatif dan tingkat keefektifannya dalam situasi yang sedang menjadi perhatian, proses pembuatan atau pengambilan keputusan relatif sangatlah mudah. Akan tetapi di dalam praktiknya sangat tidak mungkin untuk mengumpulkan informasi secara lengkap, mengingat terbatasnya dana, waktu, dan tenaga.

Pada kasus waduk pluit tersebut gubernur DKI Jakarta telah mencari informati sebanyak-banyaknya tentang berbagai hal mengenai waduk pluit."Datanya sudah ada, sudah kita pegang”.Pengumpulan data atau informasi sangatlah penting untuk mengambil suatu keputusan yang tepat. Jokowi pun juga menyadari akan hal itu sehingga Beliau mengumpulkan data dan informasi yang sebanyak-banyaknya baik melalui penggalian informasi secara diam-diam (badan intelejen) maupun dengan melakukan suatu dialog dengan penduduk di sekitar waduk pluit. Ketepatan dan keakuratan informasi menjadi fokus utama, sehingga di tengah keterbatasan dana, waktu, dan tenaga Jokowi berusaha meminimalisir kerancuan informasi yang notabene bukanlah informasi yang lengkap.

Dari informasi-informasi yang telah didapat tersebut kemudian dijadikan pertimbangan-pertimbangan untuk mendapatkan berbagai alternative. Pembuat keputusan harus mempertimbangkan dengan matang alternative yang akan diambil.

Dalam proses pengambilan keputusan tersebut,terdapat dua tipe keputusan yang dikemukakan oleh Hebert Simon yakni :

  • Keputusan Terprogram

Keputusan ini lebih bersifat rutin, repetitif, dan berdasarkan panduan atau aturan. Kesalahan yang sering terjadi cenderung bersifat prosedural. Contoh : keputusan tentang gaji yang diberikan.Keputusan untuk merelokasi penduduk waduk pluit tersebut merupakan keputusan yang terprogram karena keputusan tersebut terdapat pada program kerja Djokowi.

  • Keputusan tidak terprogram

Keputusan ini digunakan ketika organisasi menghadapi situasi tertentu dan belum pernah terjadi sebelumnya. Tidak ada prosedur yang pasti dalam menangani masalah tersebut, baik karena belum pernah ditemukan situasi yang sama sebelumnya atau karena bersifat sangat kompleks atau sangat penting. Keputusan seperti ini membutuhkan penanganan khusus.Dalam kasus relokasi pemukiman penduduk waduk pluit terdapat banyak masalah-masalah yang harus dihadapi.Masalah tersebut harus diselesaikan dengan cepat dan tepat. Contoh dalam kasus ini adalah:

  • munculnya oknum-oknum tertentu yang mengkomersialkan lahan milik negara ini kepada warga. Warga diminta membayar sejumlan uang tertentu ketika mereka menyewa lahan itu. Hal inilah yang warga tidak mau direlokasi karena mereka menganggap itu sudah menjadi miliknya. Dalam hal ini pihak Jokowi harus membentuk kebijakan yang mampu menetralisir dan menghapuskan oknum.
  • Rumah susun yang ternyata tidak gratis  menyebabkan warga harus kembali ke rumah huniannya yang awal. Dalam hal ini Jokowi harus menunjukkan kearifannya, kewibannya dan pengertiannya untuk menarik hati warga. Sehingga warga mau dengan sepenuh hati berpindah ke rumah susun yang telah disediakan oleh pemerintah

Keputusan yang sering digunakan oleh seorang wirausaha yakni sebagai berikut:

1)      Keputusan untuk menyelesaikan masalah (problem solving decision)merupakan pengambilan keputusan yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi. 

Seperti halnya keputusan yang ada dalam kebijakan ini adalah  untuk memindahkan warga ke rumah susun guna mensukseskan jalannya pengerukan di waduk dan keamanan warga, kebijakan pengerukan sampah di waduk yang bertujuan untuk mengembalikan fungsi waduk, dan pengawasan pengerukan oleh tim polisi dan keamanan bertujuan untuk mengendalikan dan mengawasi agar tidak ada penyelewengan dan “bekerja santai” dari pekerja sendiri, serta mengantisipasi jika ada hal-hal negatif yang datang dari warga penghuni bantaran waduk.

2)      Keputusan berdasarkan intuisi (intuitive decision) adalah keputusan yangdiambil berdasarkan perasaan atau insting seseorang, biasanya dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki. Contoh nyatadalam kebijakan ini adalah adanya upaya dari pihak jokowi dan pemerintah untuk mengentaskan pengembang, karena secara tidak langsung para pengembang telah merugikan masyarakat luas

3)      Keputusan untuk mengatasi konflik (conflict decision)adalah keputusan yang diambil dengan tujuan agar konflik yang timbul tidak berujung pada pertikaian dan tidak menimbulkan dampak negatif bagi usaha.

4)      Keputusan yang diambil berdasarkan alasan yang strategis (Strategic Decision)adalah keputusan yang diambil dengan tujuan agar suatu usaha bisa menyelesaikan dan mengatasi konflik yang timbul kapanpun.

5)      Keputusan kreatif (Creative Decision)adalah keputusan yang diambil apabila suatu masalah sering terjadi baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kegiatan bisnis, perlu diambil sebuah keputusan yang bersifat tuntas, kreatif, inovatif sehingga permasalahan tersebut tidak terjadi lagi.

6)      Tidak ada keputusan atau keputusan diam (Silent Decision). Artinya dengan tidak mengambil langkah atau tindakan dan justru memil diam sebenarnya sudah mengambil keputusan dan jenis keputusan ini disebut keputusan diam.Biasanya keputusan ini diambil karena dilatarbelakangi oleh :

a)        Menunggu apa yang akan terjadi

b)        Melihat reaksinya

c)        Tidak mau mengikuti arus atau emosi yang muncul

d)       Membiarkan itu terjadi.

Walaupun jenis-jenis keputusan di atas merupakan keputusan yang dapat diambil oleh seorang wirausaha, namun pada implementasinya siapapun decision maker dapat menggunakan salah satu ataupun beberapa teori keputusan tersebut.Contohnya, pada pemerintahan Djoko Widodo yang membuat keputusan untuk merelokasi pemukiman warga waduk pluit.Dalam menjalankan keputusan tersebut, terdapat masalah-masalah yang muncul sehingga beliau harus mengatasi masalah tersebut dengan menggunakan intuisi. Intuisi tersebut akan semakin tajam apabila seorang decision maker memiliki pengetahuan dan pengalaman yang mumpuni di bidangnya.

Salah satu metode yang digunakan dalam pengambilan keputusan adalah model klasik. Model klasik tersebut dibagi menjadi dua, yakni model preskriptif dan model administratif. Asumsi dasar model preskriptif adalah manajer memiliki akses ke semua sumber informasi untuk membuat keputusan. Organisasi dapat membuat keputusan secara efektif berdasarkan preferensi atau skala prioritas di antara sejumlah alternatif solusi. Kelemahan yang dimiliki model ini adalah tidak semua manajer memiliki akses ke semua sumber informasi yang dibutuhkan. Contoh dalam kebijakan waduk pluit ini adalah : informasi yang didapat oleh Jokowi mengenai kondisi waduk yang sangat miris ini berasal dari kunjungan langsung, dan informasi dari team pengawas lingkungan daerah sekitar serta adari berbagai bencana banjir yang sering melanda daerah ini. Sehingga dari informasi ini Jokowi akhirnya memutuskan bahwa harus diadakan rehabilitasi fungsi waduk sebagai kantong air, bukan sebagai tempat pembuangan sampah ataupun daerah hunian warga

Sedangkan pada model administratif dianggap bahwa seseorang memiliki keterbatasan rasionalitas. Terdapat sejumlah alternatif dan informasi yang sangat kompleks atau banyak sehingga manajer tidak dapat menggunakannya sebagai bahan pertimbangan. Keputusan tidak mudah dibuat oleh pihak yang memilliki pengetahuan kognitif terbatas. Selain itu, kebanyakan manajer tidak mampu melihat semua alternatif yang sebetulnya ada dan membuat keputusan dengan bekal informasi yang sangat terbatas. Sehingga, keputusan yang dibuat beresiko dan spekulatif.

Dalam usaha pengambilan keputusan tersebut, keputusan tidak hanya bisa ditetapkan begitu saja.Ada tahap-tahap tertentu untuk lebih mengefisiensikan, mengefektifkan serta mengekonomiskan suatu pengambilan keputusan terhadap suatu masalah. Semua keputusan itu keenam pertanyaan yang meliputi “apa yang hendak dikerjakan, dimana kegiatan-kegiatan tertentu akan dilakukan, bilamana kegiatan-kegiatan itu hendak diselenggarakan, siapa yang mendapat tugas apa, bagaimana sistem dan prosedur kerjasama yang hendak ditempuh dan mengapa sebuah keputusan itu diambil”. Dari keenam pertanyaan itulah kita mampu mengilustrasikan sebuah pembahasan yang cepat, tepat, sistematis,praktis atau secara singkat disebut EKSHAUSTIF.

Dalam sebuah buku menjelaskan bahwa ada 7 tahap strategis dalam proses pengambilan keputusan. Tahap-tahap ini dijelaskan secara rinci dalam sebuah pembahasan yang strategis.Yang pertama adalah tahap Tragerring Events atau disebut pula sebagai objek yang dipermasalahkan.Objek yang dipermasalahkan adalah sebuah masalah yang intelijen.Artinya masalah tersebut berada dalam situasi yang berpeluang baik dalam pembentukan kebijakan menguntungkan untuk sebuah organisasi maupun individu.Banjir tahunan yang melanda Jakarta merupakan masalah yang sampai saat  ini belum dapat terpecahkan. Tahap yang kedua adalah tahap yang mengharuskan adanya kebutuhan utama terhadap sebuah keputusan yang diambil. Kemungkinan yang terjadi adalah kebutuhan ini disebabkan oleh adanya tuntutan tanggung jawab terhadap berbagai perubahan di lingkungan baik internal ataupun eksternal.  Perubahan inilah yang menimbulkan rasa komitmen  terhadap masalah utama yang perlu dituntaskan. Untuk menyelesaikan masalah tersebut Pemprov DKI Jakarta memiliki gagasan salah satunya dengan cara memaksimalkan fungsi  waduk pluit. Setelah tahap kedua ini,tahap selanjutnya yang perlu dilakukan adalah mengembangkan alternatif yang ada.Sebuah organisasi dalam hal ini harus pintar-pintar beradaptasi dengan berbagai kondisi yang ada. Suatu organisasi bahkan perlu bersikap bertindak heuristik representatif yang mana ia harus mampu menilai kemungkinan yang terjadi dari suatu kejadian, menarik analogi dan melihat situasi yang paling identik sesuai dengan keadaan yang ada. Kadangkala,masalah yang tampak itu cenderung memiliki probabilitas terpilih yang lebih tinggi dibanding masalah-masalah yang penting.Mengapa demikian?Ya, karena masalah yang ada lebih mudah untuk dikenal karena tampak (visible) secara nyata, dan masalah ini tengah menjadi pusat perhatian banyak orang.Kembali pada usaha pengembangan alternatif yang ada, adapun kriteria-kriteria yang mampu meminimalisir kesulitan yang hadir dalam sebuah keputusan terhadap suatu masalah.Kriteria tersebut meliputi kedewasaan/kematangan berfikir, ketrampilan teknis, ketrampilan human relations atau kekreatifan, managerial skill, dan senioritas. Enam hal ini diharap mampu mewujudkan ide segar dalam mengembangkan alternatif yang banyak. Contoh nyata dalam kasus ini adalah kebijakan mengenai tujuan untuk memaksimalkan fungsi waduk pluit tersebut, Pemprov DKI Jakarta harus dapat melihat segala masalah yang timbul akibat adanya keputusan tersebut.Salah satu masalah tersebut adalah penduduk di sekitar waduk pluit menolak untuk direlokasi.Disinyalir para penduduk menempati rumah yang disewakan oleh para pengembang. Dari  kasus waduk adapun tahap pengembangan strategi ini meliputi

  • Penggusuran rumah warga yang sebenarnya bukan secara paksa,namun terkesan menjadi paksa  karena warga itu sendiri yang bersalah telah membangun rumah tanpa izin dan melanggar UU lingkungan yang berlaku. Sedangkan warga telah terbiasa atas tempat tinggal mereka dan situasiyang ada di bantaran sungai karena mereka sudah lama tinggal di lokasi itu.
  • Pendirian rumah susun untuk warga yang akan di relokasi
  • Rumah susun ini dikenai sistem kontrak
  • Penghapusan oknum ilegal (pengembang lahan negara) di bantaran waduk pluit
  • Pengerukan sampah-sampah di sekitar dan didalam waduk dengan mesin pengeruk

Tahap keempat dalam pengambilan keputusan adalah tahap mengevaluasi berbagai alternatif yang ada. Dalam tahap ini, manajer utamanya, harus mampu berfikir kritis, analitis, dan skeptis terhadap berbagai resiko yang nampak didepan mata. Resiko inilah yang akan memberikan fokus pandangan terhadap keuntungan dan keruguian berbagai alternatif yang telah dianalisa secara berlanjut.Untuk menyelesaikan masalah tentang oknum pengembang tersebut, Pemprov DKI Jakarta bertekad untuk menghilangkan para oknum tersebut.Dengan demikian para warga dapat direlokasi. Namun hal ini akan  Tahap kelima adalah memilih alternatif terbaik. Tahap ini membutuhkan banyak informasi yang digunakan sebagai bahan pertimbangan yang meyakinkan guna mengambil dan memutuskan alternatif terbaik dalam sebuah keputusan.Pemprov DKI Jakarta mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya melalui dialog dengan warga sekitar waduk pluit. Informasi tersebut kemudian akan dijadikan bahan pertimbangan untuk melakukan langkah selanjutnya. Tahapan ini membutuhkan banyak informasi yang digunakan sebagai bahan pertimbangan alternatif manakah yang akan dipakai guna menjawab masalah yang ada yang kemudian diimplementasikan dan direalisasikan. Nampak jelas dalam fokus masalah ini, Jokowi harus berfikir secara lebih lanjut untuk menyelesaikan sebuah masalah. Mengenai pengembang yang ingin menduduki lahan negara tentunya, Jokowi harus memilih strategi yang diterapkan untuk menghindari resiko yang akan terjadi. Di mulai dari merumuskan masalah, mencari alternatif dan membuat beberapa alternatif serta pemilihan alternatif untuk diimplementasikan. Untukk menghilangkan pengembang nakal tersebut, Jokowi akan menemui Komnas HAM terkait untuk menyelesaikan masalah ini. Namun sebelumnya Jokowi sudah berbekal informasi siapa sajakah para pengembang nakal yang hendak menguasai Waduk Pluit lengkap dengan data-datanya dan mengerti pula bagaimana kondisi lapangan. Sehingga dari sini dapat muncul beberapa alternatif untuk mengambil keputusan yaitu salah satunya bertemu dengan Komnas HAM untuk dibicarakan lebih lanjut.

Setelah dibicarakan lebih lanjut bersama Komnas HAM, perkembangan normalisasi Waduk Pluit dapat terlihat. Ini terbukti bahwa alternatif yang dipakai Jokowi dalam mengambil keputusan dapat dikatakan tepat sasaran. Hal ini terbukti dengan hasil yang dicapai yaitu perkembangan positif dari Waduk Pluit itu sendiri.

Tahap selanjutnya adalah mengimplementasikan alternatif yang dipilih. Di sinilah sebuah tindakan akan direalisasikan. Tanpa implementasi, pengambilan keputusan terhadap suatu masalah tidak akan memberikan hasil yang optimal tahap terakhir adalah mencari dan belajar umpan balik. Di tahap ini seluruh aktivitas organisasi harus cermat terhadap keputusan yang mereka jalankan. Kecermatan ini memberikan evaluasi titik benar dan salah terhadap alternatif yang dipilih. Apabila dalam keputusan itu ada kesalahan,diusahakan agar kesalahan itu tidak terulang kembali. Dan jika ada kebenaran, maka kebenaran itu harus dipertahankan dan dikembangkan agar menghasilkan sebuah keuntungan. Pengimplikasian dalam sebuah kebijakan sering kali dikaitkan dengan faktor-faktor yang dibutuhkan dalam upaya penerapan kebijakan ini yang meliputi ketersedian waktu, SDM, mesin, petugas pengaman, dll. Sebagai contohnya :Setelah Pemprov DKI Jakarta mengantongi nama-nama pengembang tersebut, langkah selanjutnya adalah menghilangkan para oknum tersebut sehingga warga pemukiman waduk pluit bersedia direlokasi.

Dalam proses pengambilan keputusan diperlukan berbagai alternatif keputusan yang digunakan saat keputusan yang telah diterapkan ternyata memiliki lebih banyak kelemahan yang mengakibatkan kerugian bagi organisasi. Tidak semua alternatif keputusan dapat dijadikan cadangan untuk mengganti keputusan yang tidak sesuai.Alternatif keputusan yang ada harus dievaluasi terlebih dahulu agar keputusan yang ditetapkan nantinya bisa meminimalisir kerugian bagi organisasi.Ada empat tahap dalam mengevaluasi alternatif pengambilan keputusan, pertama alternatif keputusan yang diambil harus legal yakni keputusan yang diambil tidak menyimpang dari peraturan atau hukum yang berlaku di masa itu. Keputusan yang diambil premprov DKI Jakarta tersebut tidak melanggar aturan hukum yang ada karena memang lahan di sekitar waduk pluit tersebut adalah milik pemprov DKI Jakarta. Selain itu kebijakan yang dilakukan ini adalah dengan seizin dan pertimbangan pemerintah daerah setempat dan menteri pembangunan dan sepengetahuan DPR. Kedua adalah etis, yakni tidak melanggar norma dan etika dalam masyarakat. Dalam hal ini etisnya kebijakan Jokowi dianggap sesuai dengan peraturan pemerintah,Tata Ruang Kota,  dan AMDAL. Yang mana “ ketertiban , kenyamanan, adalah menjadi tolak ukur utama dalam pembangunan daerah”. Ketiga adalah efisien, artinya keputusan yang diambil sesuai dengan kebutuhan organisasi. Efisien dalam kebijakan ini artinyaadalah  keputusan yang diambil sesuai dengan kebutuhan organisasi, tidak menghabiskan dana pemerintah, serta melakukan pemborosan belanja daerah juga tidak memerlukan waktu yang lama dan berkepanjangan. dan yang keempat adalah praktis yakni mampu diterapkan dalam organisasi.

Dari penjabaran diatas dapat diartikan bahwa alternatif keputusan yang terbaik adalah keputusan yang bukan hanya tidak melenceng dengan hukum tetapi juga harus menghormati norma dan etika di masyarakat. Hal ini berarti alternatif keputusan yang diambil tidak merugikan orang lain ataupun mendatangkan konflik di masyarakat. Alternatif keputusan juga tidak mendatangkan hal yang sia-sia karena kegiatan yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan organisasi dan mampu diterapkan di organisasi.

Suatu keputusan ditujukan untuk memecahkan masalah yang terjadi pada suatu organisasi, sehingga apabila suatu keputusan ternyata tidak dapat mengatasi permasalahan yang ada pada suatu organisasi maka keputusan itu hanyalah sebuah kesia-siaan belaka. Untuk itu, di dalam menetapkan alternative keputusan seorang pengambil keputusan (decision maker) juga harus mengetahui seluk-beluk organisasi dan faktor-faktor apa sajakah yang dapat mempengaruhi keberlangsungan organisasi tersebut.Sehingga diperlukan suatu pemahaman mengenai organisasi.

Hal serupa juga harus dilakukan oleh seorang pengambil keputusan, misalnya saja pada kasus waduk pluit.Dalam menyelesaikan masalah tersebut perlu adanya pemahaman tentang organisasi agar dapat mengambil keputusan tanpa merugikan pihak-pihak tertentu.Hal itu dapat diwujudkan dengan memahami teori-teori berikut ini.

Pemahaman mengenai organisasi dapat diawali dengan pemahaman mengenai teori organisasi, salah satunya Teori organisasi pembelajaran atau organizational learning theory dengan uraian (strands) umum tentang teori organisasi menunjukan bahwa literatur tentang organisasi pembelajaran lebih berfokus kepada pembahasan tentang situasi perubahan dan pengembangan (Doz and Prahalad, 1991).

Organisasi pembelajaran (learning organizational) memberikan konstribusi yang positif bagi organisasi tentang pemecahan masalah yang sistematis sebagai aktivis awal yang menenkankan pada filosofi dan metode yang digunakan terhadap peningkatan kualitas, yang dilakukan melalui program pelatihan teknik pemecahan masalah, berupa latihan dan contoh kasus sehingga anggota organisasi lebih disiplin dengan pemikirannya, serta memperhatikan detail sebuah pekerjaan. Akurasi dan kecermatan merupakan sesuatu yang essensial dalam pemahaman teori ini.

Walaupun dikritik bahwa proses pembelajaran dianggap sebagai sesuatu yang mengawang-awang, idioosincratic dan personal, pemborosan, hasil pembelajaran menjadi sesuatu yang usang jika tidak secara terus-menerus digunakanakan tetapi pengembangan pada teori mini memungkinkan organisasi untuk selalu tanggap terhadap dinamika lingkungan serta memungkinkan adanya penjabaran visi-misi yang lebih luas terhadap pencapaian tujuan organisasi.

Organisasi pembelajaran(learning organization), memberikan konstribusi yang positif bagi organisasi tentang pemecahan masalah yang sistematis sebagai aktivitas awal yang menekankan pada filosofi dan metode yang digunakan terhadap peningkatan kualitas, yang dilakukan melalui program pelatihan teknik pemecahan masalah, berupa latihan dan contoh kasus sehingga anggota organisasi lebih disiplin dengan pemikirannya, serta lebih memperhatikan detail sebuah pekerjaan. Akurasi kecermatan merupakan sesuatu yang esensial dalam pemahaman teori Teori Organisasi Pembelajar (Organizational Learning).

Selain itu, di dalam sebuah organisasi ada satu hal lagi yang sangat penting, yakni kreativitas.Dengan adanya kreativitas dari para anggotanya, suatu organisasi dapat mempertahankan dan mengembangkan eksistensinya. Untuk itulah, di semua organisasi pengembangan kreativitas individu maupun kelompok digalakkan secara besar-besaran dan saling berlomba-lomba satu sama lain. Lalu bagaimanakah cara untuk merangsang kreativitas tersebut ?Ada tiga teknik yang dapat digunakan untuk merangsang kreativitas. Teknik-teknik tersebut antara lain :

 

  1. 1.      Brainstorming

Dalam berbagai situasi kelompok diharapkan menghasilkan solusi yang kreatif dan imajinatif terhadap masalah organisasi. Untuk hal ini, brainstorming telah terbukti meningkatkan output kreatif dari kelompok. Teknik brainstorming ini memiliki aturan yang sangat ketat. Tujuan adanya aturan ini adalah mendorong timbulnya ide-ide, dan di waktu yang bersamaan juga menghindari hambatan yang dialami anggota kelompok dalam situasi tatap muka di kelompok.

Hal yang dapat menurunkan kefektivitasan brainstorming dalam kelompok adalah :

  1. kemalasan sosial
  2. konformitas
  3. c.    production blocking
  4. penurunan standar brainstorming

Di antara keempat hal di atas, yang paling potensial adalah production blocking. Hal ini terjadi karena anggota tim tidak mampu menyerap semua informasi tentang semua alternatif yang tersedia. Contoh :

  • Dengan adanya kasus “pengembang” pemerintahan Jokowi aktif dalam mencari data pengembang. Sehungga ia mampu mengumpulkan sekitar 20an data pengembang. Kritis, analitis, skeptis adalah kunci utama dalam kasus Jokowi ini.
  • Upaya Jokowi dalam merayu masyarakat agar mau pindah ke rumah susun.
  1. Nominal Group Technique (NGT)

NGT adalah metode penetapan keputusan yang terjadi dalam rapat terstruktur, keputusan kelompok berdasarkan penilaian matematis atas masukan. Teknik ini digunakan untuk menghindari adanya masalah production blocking. Tahapan-tahapan NGT antara lain :

-     Anggota kelompok secara independen menulis ide, masalah yang akan dipecahkan, atau peluang

-     Setiap anggota kelompok secara bergantian menulis di papan tulis, komputer atau apapun setiap ide masalah atau kesempatan, tidak ada komentar atau diskusi.

-     Setiap pernyataan yang telah ditulis didiskusikan menyempitkan menjadi set terbaik

-     Anggota melakukan voting atau memberi ranking mulai dari yang terbaik sampai terburuk.

Contoh yang dapat diambil dari kasus waduk pluit ini adalah adanya rapat terprogram sesuai deadline agar terbentuk panitia pelaksana program kebijakan waduk pluit yang membawa keputusan langkah / step apa saja yang akan dilakukan. Seperti halnya tahap perelokasian, pembangunan, dsb.

  1. 3.        Delphi technique

Teknik ini dilakukan dengan mengumpulkan dan membandingkan format tertulis mengenai suatu topik tanpa harus ada pertemuan tatap muka. Masalah didistribusikan secara tertulis yang kemudian disampaikan manajer kepada pegawai yang mampu menghasilkan alternatif tertulis. Hasil dari pegawai atau anggota tim tersebut disimpulkan oleh manajer puncak. Hasilnya dikirim kembali ke partisipan sebagai umpan balik dan kemudian di ranking. Proses terus berlangsung hingga dicapai suatu konsensus. Dalam metode ini manajer lainnya dapat berpartisipasi.

Teknik delphi ini memiliki keuntungan yang didapat dari memiliki beberapa penilai dan menghilangkan pengaruh bias yang mungkin terjadi pada interaksi dalam tatap muka. Dalam contoh dari kebijakan pluit ini adalah terbentuknya team pengawas, dan pengevaluasi hasil kinerja team “Kebijakan Waduk Pluit”. Evaluasi ini dilaksanakan antar koor yang melaporkan masing masing hasil atau kemajuan dari kegiatan yang dipegangnya. Serta saling bertukar pendapat yang mungkin saja akan membawa progress yang baik bagi suatu kegiatan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Republika.co.id  : rabu , 16 May 2013, 05:36 WIB diunduh tanggal 25 Mei 2013

KOMPAS.com/ZICO NURSAID , diunduh tanggal 25 Mei 2013

Terry, R. George. 2009. Prinsip – Prinsip Manajemen. Jakarta : Bumi Aksara

Terry R. George dan Rue W  Leslie.  2009. Dasar-Dasar Manajemen. Jakarta : Bumi Aksara

Brantas. 2009. Dasar-Dasar Manajemen. Bandung : Alfabeta

Kast, E. F. Dan Rosenzweig e. J. 2002. Organisasi dan Manajemen. Jakarta : Bumi Aksara

Kast, E. F. Dan Rosenzweig e. J. 2002. Organisasi dan Manajemen2. Jakarta : Bumi Aksara

Konopaske, Robert, dkk. 2007. Perilaku dan Manajemen Organisasi. Jakarta : Erlangga

 

 

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :