Web Mahasiswa

Berpacu menjadi yang terbaik

ETIKA

08 January 2014 - dalam Umum Oleh siti-alvi-fisip12

BAB 1

Apakah ETIKA ITU ?

  1. 1.      Penjernihan istilah

Kata etika tidak terdengar dalam perkuliahan saja. Kata etika ini sangat mewarnai kehidupan kita sehari – hari. Kata ini tidak berfungsi dalam keadaan remeh/ iseng tapi sebaliknya kata ini penting dalam suatu konteks yang serius yang kadang berbetuk prinsipil. Etika di mengerti sebagai filsafat moral.

1.1          ETIKA DAN MORAL

  • Menurut bahasa Yunani yang artinya adat kebiasaan oleh filsuf besar Aristoteles( 384-322 ). Dengan asal usul kata ini etika berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan/ ilmu tentang adat kebiasaan.
  • Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang lama ( Poerwadarminto sejak 1953 ) etika dijelaskan sebagai ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak  jadi dalam kamus ini hanya mengenal satu arti etika sebagai ilmu
  • Kamus Besar Bahasa Indonesia Debdikbud  1988, etika di jelaskaan dengan tiga arti : 1) ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral ( akhlak ). 2) kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak. 3) nilai mengenai benar dan salah  yang di anut suatu golongan atau masyarakat.
  • Kamus besar bahasa indonesia edisi 1998, yang perumusannya lebih di pertajam lagi dengan ada 3 pengertian yakni : 1) bisa dipakai dalam arti: nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah laku 2) merupakan kumpulan asas atau nilai moral 3) yang mempunyai arti lagi yaitu ilmu tentang  yang baik atau buruk.

1.2        Amoral dan Immoral

yang diterangkan oleh concise oxford dictionary kata amoral sebagai “uncorcerned with, out of the spere of moral,  jadi amoral tidak berhubungan dengan konteks moral. Imoral berarti bertentangan dengan moralitas yang baik”. “buruk secara moral “. “tidak etis. Dalam sumber lain amoral berarti tidak bermoral.

1.3       Etika dan Etiket

Perlu diperhatikan tentang pengertian etika dan etiket seringkali keduanya di samakan satu sama lain padahal perbedaanya sangat hakiki. Etika merupakan suatu hal yang menyangkut masalah baik atau buruk dilakukan, ya atau tidak dilakukan yang bersifat pasti dan normatif. Contohnya: kita tidak boleh mengambil barang milik orang lain. Dari kata itu sudah terlihat bahwa etika harus benar-benar di patuhi. Sedangkan etiket yaitu perbuatan harus dilakukan manusia yang menunjukan cara yang tepat untuk melakukan sesuatu dalam kalangan tertentu.

 

2.     Etika Sebagai Cabang Filsafat

2.1         Moralitas : Ciri khas manusia

Semua bangsa mempunyai etika tentang baik dan buruk tapi etika yang dimiliki antar wilayah itu berbeda satu sama lain. Moralitas ialah suatu fenomena manusiawi yang universal. Dalam ciptaan-Nya,manusia sendiri berbeda dengan hewan. Selain manusia memiliki kelebihan rasio, bahasa, emosi, dan tingkat kecakapan, manusia memiliki keunggulan yang paling mendasar yaitu Moralitas. Moralitas inilah yang juga menyebabkan manusia dibilang sebagai Binatang plus.

2.2         Etika : Ilmu tentang moralitas.

Artinya ialah ilmu yang menyelidiki semua hal yang berkaitan dengan moral.

                Macamnya ada 3, yakni :

a)      Deskriptif : ilmu yang menjabarkan saja tanpa menilai baik buruknya ilmu itu. Sifatnya empiris.

Contohnya : Ilmu antrobudaya, psikologi, sosiologi, dan sejarah

b)      Normatif : Bersifat preskriptif yang selalu memerintah dan menilai serta menentukan kebenaran berdasarkan norma / prinsip etis. Normatif ada 2 macam yakni UMUM yang mengkaji hal-hal yang paling mendasar(apa, mengapa, dan bagaimana), dan KHUSUS  yang biasa juga disebut etika terapan (Applied Ethics) yang mengkaji hal-hal yang dibahas dalam 1 tema permasalahan umum. Yang mana dinilai dan akan diterapkan.

c)       Metaetika : Sifatnya etis yang (sesuai dengan norma,nilai,hak,dan nilai keadilan).Metaetika berkaitan dengan bahasa/ucapan kita dalam kehidupan sehari-hari dalam konteks moral yang menjadi ideologi tiap milayah tertentu. Metaetika juga disebut etika analitis. Contohnya saja perbedaan antara kata-kata yang dipakai masyarakat asli Surabaya yang terkesan kasar dengan masyarakat asli Yogyakarta yang terkenal halus, lembut, dan santun.

 

 

 

 

 

 

 

 

      4.           Moral dan Agama

Tidak bisa disangkal lagi bahwa antara moral dan agama memiliki hubungan yang sangat erat. Karena landasan kita yang terpenting bagi perilaku moral adalah agama. Atas pertanyaan “mengapa perbuatan ini tidak boleh dilakukan”,secara spontanitas bisa dijawab “karena tidak sesuai dengan kehendak Tuhan”. Setiap agama memiliki suatu ajaran moral yang menjadi pedoman penganutnya, namun dari semua agama hanya terjadi sedikit perbedaan tetapi tidak terlalu besar. Bisa dibilang dalam suatu agama hanya ada dua aturan. Di satu pihak terdapat banyak aturan yang mendetail seperti makanan yang diharamkan, tetapi konsekuensinya hanya di kalangan agama tersebut saja. Di lain pihak ada aturan yang lebih etis, yang melampui kepentingan salah satu agama,maksudnya di sini adalah aturan yang bisa di terima oleh semua agama contohya jangan membunuh, jangan berzinah, dan jangan mencuri . Aturan ini adalah yang paling etis, yang menyebabkan pandangan moral yang dianut setiap agama pada dasarnya sama.

Ajaran moral dianggap sangat penting dalam suatu agama, karena berasal dari kehendak Tuhan. Namun demikian, nilai dan norma moral tidak secara eksklusif diterima karena alasan keagamaan. Karena dalam etika filosofis atau filsafat moral jstru menggali alasan rasional tentang nilai dan norma yang kita pakai sebagai pegangan perilaku moral kita. Filsafat hanya menerima argumen-argumen yang rasional, artiya alasan logis yang mudah dimengerti oleh semua orang. Dan menghindari yang nonrasional. Sedangkan keimanan justru sebaliknya, karena iman tidak dibuktikan melainkan dipercaya. Demikian juga perbedaan tentang kesalahan moral. Dalam konteks agama adalah dosa karena melanggar perintah Tuhan, tetapi dari sudut filsafat kesalahan moral adalah prinsip etis yang seharusnya dipatuhi. Karena itu disini kesalahan moral adalah sebuah inkonsekuensi rasional.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sudut pandang berbeda, jika agama dan filsafat berbicara tentang hal-hal etis, dan terdapat hubungan yang erat antara agama  dan filsafat. Dari sudut pandang filsafat, filsuf beragama pasti akan dipengaruhi oleh keyakinan religiusnya. Bila selaku orang beriman , misalnya ia percaya bahwa Tuhan telah menciptakan dunia dan manusia, maka kepercayaannya itu akan mengarahkan juga pemikirannya tentang hal-hal etis. Dipandang dari segi agama, agama sering menggunakan argumentasi-argumentasi yang pada dasarnya bersifat filosofis. Sebab disini agama hanya sebagai pedoman prinsip-prinsip etis umum, yang dapat diterima oleh hampir semua orang. Dengan demikian jalan yang ditempuh sebagian besar bersifat filosofis.

Agama sebagai dasar untuk moralitas, karena adanya Tuhan dibutuhkan supaya kewajiban-kewajiban moral sungguh-sungguh mengikat. Karena pada hakekatnya sampai kapanpun kita tidak akan bisa lolos dari Tuhan. Perlu diakui, moralitas bukan merupakan monopoli orang beragama, baik dan buruknya tidak mempunyai arti untuk orang beragama saja. Ada kenyataan bahwa dewasa ini banyak orang menganut suatu etika humanistis dan sekular, tanpa adanya hubungan apapun dengan agama. Kita sampai pada kesimpulan bahwa di dunia yang ditandai pluralisme moral, semakin mendesak kehadiran etika filosofis yang memecahkan masalah etis dengan dasar yang rasional saja. Adanya pluralisme pandangan etis  bukan saja karena adanya pelbagai agama dengan suasana moral yang berbeda beda,tetapi juga karena adanya tembok pemisah antara pandangan etis orang beragama dan sekular. Jika kita ingin mencapai kesepakatan di bidang etis kita harus berpedoman pada rasio.

 

5.         Moral dan hukum

Moral memiliki hubungan erat dengan hukum. Dari segi hukum, hukum membutuhkan moral. Hukum tidak berarti banyak tanpa adanya moralitas, hukum akan kosong. Kualitas hukum pun sebagian besar juga ditentukan oleh mutu moralnya. Karena itu hukum harus selalu diukur dengan norma moral. Disisi lain moral juga membutuhkan hukum, moral akan cuma mengawang-awang saja kalau tidak diungkapkan dengan hukum. Tetapi antara moral dan hukum harus membatasi diri dengan mengatur hubungan antar manusia yang relevan.

Meskipun ada hubungan yang erat antara moral dan hukum, namun perlu dipertahankan juga bahwa hukum dan moral itu tidak sama. Kenyataan paling jelas membuktian hal itu adalah adanya konflik. Tidak mustahil jika adanya undang-undang imoral, yang boleh ditentang atas pertimbangan etis. Itu menunjukkan ketidakcocokan antara hukum dan moral. Contohnya adalah politik apartheid, memang olitik itu dijalankan dengan baik. Politik pemisah tersebut disana dilakukan berdasarkan hukum. Tetapi itu harus ditolak berdasarkan pertimbangan etis, bahwa semua manusia dilahirkan merdeka dan memiliki hak-hak yang sama. Dan selama ini telah terlihat banyak sekali protes dan pemberontakan terhadap undang-undang yang tidak adil, sehingga mengubah sistem hukumnya. Hal itu menunjukkan bahwa hukum dan moral harus dibedakan, walaupun hubunganya sangat erat.

Terdapat empat perbedaan antara hukum dan moral. Yang pertama ialah hukum lebih dikodifikasi daripada moralitas, artinya ditulis dan disusun secara sistematis. Oleh karena itu norma yuridis lebih obyektif, dan norma moral bersifat subyektif. Karena tidak ada pegangan tertulis akibatnya norma moral sering diganggu oleh diskusi mencari kejelasan tentang anggapan etis atau tidak etis. Baik hukum maupun moral mengatur tingkah laku manusia, hukum membatasi pada tingkah laku lahiriah saja, sedangkan moral menyangkut sikap batin manusia. Hukum hanya meminta legalitas, artinya kita memenuhi hukum jika tingkah laku lahiriah memenuhi hukum. Perbedaan lainnya adalah sanksi. Hukum sebagian besar dapat dipaksakan, dan yang melanggarnya akan dapat hukuman. Sedangkan norma etis tidak dapat dipaksakan, karena tidaka akan efektif dalam pelaksanaannya. Satu-satunya sanksi di bidang moralitas adalah hati nurani tidak tenang, semisal malu terhadap orang-orang sekitar. Bila ia memiliki kedudukan, ia akan mendapat celaan umum. Dan bagi yang beragama sanksinya adalah dosa.

Perbedaan mengenai sanksi itu berkaitan dengan suatu perbedaan lain lagi. Hukum didasarkan atas kehendak masyarakat, dan akhirnya menjadi kehendak negara. Moralitas didasarkan pada norma-norma moral yang melebihi para individu dan masyarakat. Dan moral tidak bisa diubah dengan cara demokrasi atau suara terbanyak. Dan masyarakatpun harus mematuhi norma moral. Moral menilai hukum dan tidak sebaliknya

IDE POKOK

  1. 1.      Penjernihan istilah

      Yang berbentuk prinsipil sebagai filsafat moral       

1.1  Etika dan Moral

a)      Adat kebiasaan

b)      Ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak

c)      Nilai nilai dan norma moral

d)      Ilmu tentang baik dan buruk

e)      Hak dan kewajiban

1.2  Amoral dan Immoral

a)       Amoral : tidak berkaitan dengan konteks moral

b)       Immoral : buruk secara moral

1.3  Etika dan Etiket

a)      Etika : merupakan pilihan dari hal baik dan buruk yang bersifat normatif

b)      Etiket : suatu cara yang tepat untuk melakukan suatu dalam keadaan tertentu

      2.  Etika Sebagai Cabang Filsafat

    2.1. Moralitas : Ciri khas manusia         

a)      Amoral : Tidak punya relevensi Etis/ moral. Sedangkan Imoral : Buruk dari sudut moral

b)       Setiap wilayah mempunyai etika yang berbeda satu sama lain

c)       Manusia adalah binatang plus karena adanya moralitas pada manusia

d)       Nilai keharusan ada 2,yakni: alamiah ,dan moral

  • Alamiah:Sesuatu yang berlangsung dengan sendirinya,tanpa diperintah.
  •  Moral : sesuatu yang didasarkan hokum moral, mewajibkan manusia  bertindak.

        2.2. Etika : Ilmu tentang moralitas

a)      Artinya ialah ilmu yang menyelidiki semua hal yang berkaitan dengan moral.

b)       Pembagiannya ada 3,yakni DESKRIPTIF, NORMATIF, dan METAETIKA

 

 

 

 

 

 4.        Moral dan Agama

a)      Landasan perilaku moral

b)      Aturan yang ditetapkan oleh agama

c)       Kehendak Tuhan YME

d)      Nilai dan moral agama

e)      kepercayaan

      5.   Moral dan Hukum

a)      Norma moral

b)      Hukum disusun secara sistematis dan tertulis

c)       Hukum membatasi tingkah laku manusia

d)      Dan moral hanya menyangkkut batin

e)      Terdapat sanksi dalam hukum

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :